PENDEGO ( Penjaga Tambak )

M. Dani ( 28 Th ) Pendego Profesi Hidup
Profesi Pendego ( Penjaga Tambak Ikan ) sudah lama dipratekkan sejak 4 generasi yang lalu. umumya orang berprofesi ini hari-harinya dihabiskan di tepi laut, jauh dari daerah pemukiman, kadang dalam seminngu cuma sekali ke keramaiaan untuk membeli kebutuhan makan dan minyak tanah. contohnya M. hamdani (28 tahun ) mengaku menjalani profesi ini sejak umur 12 tahun, ia mengikuti jejak ayahnya yang juga berprofesi sama sebagai pendego. dan hanya ketrampilan menjaga tambak yang hamdani miliki, karena ia hanya tamatan Sekolah Dasar 6 tahun. Menjadi pendego tak semudah bayangan orang katanya. ya..seperti paranormal lah..ia harus tahu kapan air laut akan pasang dan surut, berapa banyak ikan yang ada dalam tambak meski tak terlihat, ha..ha..ha..ini semua karena pengalaman mas, katanya padaku dan itu di nyakini juga oleh Tosin (65 thn) pendego yang menjaga tambak ikan H.Toha juragannya selama 50 tahun . dan bagaimana dengan pendapatan mereka, rata-rata dalam satu bulan pendapatan mereka tidak tentu ( 300-450 Rp ) ini didapat dari memasang prayang ( jebakan untuk menangkap udang putih ). kalau hasil prayang banyak ya mereka senang jika tidak ada hasil ya..cari pinjaman ke para tengkulak udangnya. Pendego memang tidak di gaji bulanan sama juragannya, apalagi di beri pesangon kalau uda gak kerja, mereka benar-benar survive dalam menjalankan profesinya. pendego dapat merasakan hasil yang cukup lumayan apabila panen dalam setahun paling banyak 3 kali panen. dari hasil panen 10% diberikan oleh juragannya. ya..itulah pendego sebuah profesi yang masih ada hingga kini yang tak pernah tersentuh oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan. Profesi Pendego banyak dijumpai di wilayah kawasan pesisir pantai utara wilayah budidaya ikan kolam tambak tradisional.
Seperti Bapak Djaelan atau biasa dipanggil Wak Djaelan ( 80 Tahun ) mengabdi sebagai Pendego sejak umur 10 tahun hingga saat ini, diusia yang sudah uzur tugasnya lebih ringan dibandingkan ketika dulu masih muda, dijaman penjajahan seseorang yang dipilih menjadi Pendego oleh para pemilik tambak adalah orang yang menpunyai kemampuan lebih, seorang pendego minimal bisa mengusai seni beladiri ( Pendekar ) karena dijaman sebelum kemerdekaan ( tahun 1930 – 1945 ) Pendego adalah orang yang direkomendasi oleh seorang lurah untuk mengamankan area pertambakan dari gangguan pencuri, tugas pandego mengatur buruh-buruh tambak , memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan perlindungan apabila mendapat ancaman dari pencuri maupun perampok ikan bahkan juga ancaman dari mantra / polisi belanda yang hendak menangkap dan men – sel para warga sekitar tambak karena mencuri roti dan susu dari kapal belanda yang merapat di pesisir pantai. Para pendego bisa memegang kendali beberapa buruh dan hingga beberapa hektar tambak, begitu Wak Djaelan menuturkan. Setelah kemerdekaan ( 1945 -1965 ) peran pendego menjadi sangat strategis karena mereka menbawai banyak buruh, seperti buruh ngigiri ( Buruh Menaikkan tanah keatas pematang ), Buruh keduk ( Buruh mengambil tanah liat untuk melebarkan/ meninggikan tanah pematang ) Buruh tambak ( Buruh yang menjaga, memelihara ikan hingga mbanjang / panen ), para buruh ini mengantungkan nasibnya pada para pandego, kapan mereka bekerja dan kapan mereka berhenti, semuanya pendego yang mengatur, otomatis posisi pandego sangat dihormati dikalangan para buruh dan masyarakatnya ditambah lagi banyak juga setelah pensiun dari pandego, mereka dijadikan lurah oleh petinggi ( Pejabat yang mengangkat menjadi lurah ).
Evoria setelah bangsa ini merdeka dan pada waktu 1955, banyak kelompok organisasi, kaum cendekia, ormas ,ramai – ramai mendirikan partai, dijaman multipartai banyak para pendego yang diperalat menjadi media propaganda politik, mereka jadi pecah ada yang ikut agamis ( PNU ) Ada yang ikut Nasionalis ( PNI ) Ada yang ikut Komunis ( PKI ), suasananya campur aduk yang tadinya menjadi teman akhirnya berkelahi saling adu kekuatan masa buruhnya. Yang ikut Komunis akan dijanjikan pembagian hak atas tanah dengan adil dan begitu garang mengambil ikan yang belum waktunya di panen, atau ketika di panen mereka ikut Mburi ( mengambil semaunya sendiri ) tanpa menghiraukan sang pemilik tambak atau pendego yang mengawasinya atau mencuri udang di prayang waktu malam hari. Sedang yang ikut Nasionalis rata – rata pengikut Presiden Soekarno ini yaitu pandego berkepribadian kejawen / Abangan yang lebih memilih jalan tengah dalam mengambil resiko berprinsip hidup nerimo ing pandum dalam masalah pekerjaan, pendego yang ikut PNI malah banyak membiayai dari resiko gagasan – gagasan untuk mencapai kemenangan PNI , dan lebih focus dalam wacana perubahan melawan imperialisme ekonomi dan sosial . Para pendego yang ikut Agamis adalah para Pendego yang ikut jama`ah nadliyin ( NU ) , pada waktu itu selama hidupnya dekat dengan pesantren / kyai.dan mengelola tambak-tambak milik pondok pesantren atau milik pak haji. Wak Djaelan saat itu tidak ikut partai atau golongan manapun tapi ia kena imbas juga, karena menurutnya aktifitas pendego seperti dia, hari-hari dalam hidupnya banyak dihabiskan di tambak yang diawasinya. Dan karena jauh dari pemukinan penduduk maka aktifitas sosial serta keagamaan juga jarang dilakukan secara berjama`ah . karena jarang terlihat ikut pengajian di surau-surau lantas hal ini dimanfaatkan orang yang tidak suka padanya ( Oknum ) mereka menuduh para pandego banyak menjadi kader BTI ( Barisan Tani Indonesia ) salah satu organisasi sayap komunis, apalagi para pendego kalau sudah kumpul memang sering memainkan alat karawitan gendang, jidor untuk ditabung guna mengiringi latihan silat,la kok malah di katakan itu tayuban, maksiat, maka di cap PKI dan kena sasaran pasukan Ansor ( Organisasi sayap NU ) yang memang pada waktu itu sangat getol-getolnya memberantas komunis di Indonesia, padahal faktanya tidak demikian. Hampir saja saya dibunuh oleh meraka (Oknum), tapi untungnya saya lawan mereka, wong saya ini bisa pencak silat. Ha..ha…klakarnya. setelah itu saya melarikan diri dan baru kembali setelah suasana campur aduk itu selesai.
Wak Djaelan kini menyadari bahwa kesemuanya itu hanya Akal – akalan orang pinter saja, para tuan tanah yang ingin menguasahi lahan –lahan tanah tambak, Saya dituduh PKI karena mereka ingin menguasai lahan tambak yang tadinya laut kami gacar ( Reklamasi ) menjadi tambak, di tahun 30-an orang tua saya juga Pandego, yang tadinya diberi pekerjaan untuk mengelola lahan 2 hektar dan karena bapak mengacar lagi dengan memanfaatkan tanah terlantar di pesisir timur laut, membabat pohon bakau laut yang berdampingan dengan lahan tambak yang orang tua kami kelola, maka tambak yang tadinya cuma 2 hektar makin bertambah luas. ketika saya teruskan untuk mengelola tambak tersebut . Luasnya sudah menjadi sampai 7 hektar. Dan itu yang diinginkan oleh orang2 pinter itu, supaya gacaran tambak bapak saya dapat mereka kuasai untuk di-sertifikat-kan istilah jaman sekarang. Ya… alasan mereka pada waktu itu macem – macem, kita dikenakan pajak yang tinggi . karena saya ini tidak sekolah ya…jadi tidak mengerti, mereka menawarkan diri dengan membiayai pajak atas lahan gacaran kami, lantas kami sepakati saja, dan tambak gacaran kami tersebut mereka sewa dengan cara membayar sewa tidak berupa uang, tapi berupa beras, gula, ada juga dengan kain batik ya….macem-macem lah ,,dan pada saat itu kondisi ekonomi memang kritis, jadi kami terima saja supaya dapat bertahan hidup, profesi pendego pada waktu itu sangatlah terancam apabila tidak menurut maka di tuduh PKI,…melawan juragan,…ditakut-takuti membayar pajak … Situasi jaman pemberontakan. Bukan saya saja ,“kata Wak Djaelan , di kampung Tambak osowilangun ini banyak yang bernasib sama seperti saya dan didaerah pesisir – pesir utara laut jawa ini , sampai mengare ( Gresik ) nasib pendego juga demikian, tapi kalau di daerah gresik pendego biasanya dari keluaranya sendiri, mungkin tidak se-ironis diwilayah surabaya ini . Sejak diberlakukannya undang – undang pokok agraria tahun 60 sebenarya para pendego seperti saya mendapatkan hak sisa tanah dari tambak juragan saya dulu. Juragan saya hanya punya 2 hektar dan mestinya sisa dari 7 hehtar yang sekarang ini menjadi milik pendego-pendego yang pernah bekerja di lahan tambak tersebut. Orang – orang bilang dapat SK tanah tambak , tapi nyatanya tak sebanding dengan harapan.
Kini Wak Djaelan sudah tua , tambak gacaran hasil orang tuanya dulu sudah menjadi satu sertifikat dengan tambak mantan juragannya, mereka kuasai, merka jual pada investor. Kami tidak mampu menuntut. Kami hanya punya saksi tapi mereka punya uang dan bisa mempermainkan hukum, saya ikhlaskan saja dan saya berpesan kepada anak-anak saya supaya dilupakan saja, kini Wak Djaelan terpaksa sewa tambak wakaf milik masjid , disamping mengelola tambak sewaannya ia juga menjadi salah satu Imam Sholat di Musholla Al-Ikhlas.
————————————————————————–Surinwelangon17-02-2010-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: