Ali Affandi, HARUS SAYA TULIS

Maret 8, 2010

Muhammad Ali Affandi

ali Affandi, HARUS SAYA TULIS

Ali Affandi, HARUS SAYA TULIS

( Jawa : Wis brodol udhune ) selesai sudah komitmen Ali Affandi merealisasikan mega proyek pelantikan Badan Pengurus Cabang HIPMI, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia cabang Surabaya.setidaknya itu yang bisa saya komentari dalam dinding facebook yang di ( muhammad ali affandi ) H-3

Dari visual desain undangan penulis bisa mengapresiasi bahwa sebuah gagasan segar, gagasan besar, gagasan intelektual akan segera nampak dalam draf –draf perioritas hipmi surabaya kedepan.

Gagasan Segar – Komposisi hipmi 2010-2012 bukan saja barisan anak muda produktif tapi juga barisan semangat yang santun ( Pilihan Batik sebagai keseragaman budaya ) dibangun dari kesederhanaan karakter ketum hipmi Surabaya kali ini. Tidak banyak prakata yang dijanjikan selain Ali Affandi berusaha memahami kekuatan ekonomi sector riil , ukm, umkm sebagai media mensosialisasikan hipmi ( Beda ) dalam wacana ekonomi Indonesia yang kontemporer ( Neo ) ini. Dari sini penulis kata ’’Mulai ” buat Ali Affandi ke depan.

Gagasan Besar – bersama orang – orang yang besar penulis tidak akan meragukan lagi pada malam di Mercure Grand Mirama Hotel ,8 maret 2010 , di hadiri cukup exclusive,

175 undangan termasuk penulis. Walikota Surabaya, Ketum Kadin Jatim, Ketum Hipmi Jatim, Para Asosiasi Usaha, Akademisi, konsulat RRC, Perbankan, Lagu Indonesia Raya, Hymne Hipmi, Mengheningkan Cipta, Tepuk tangan dari relasi tangan penguasa – pengusaha papan atas suarabaya, sangat mungkin aura kebersamaan seluruh elemen yang hadir ini sangat bisa akan mewujudkan gagasan besar Ali Affandi bahwa seorang pengusaha harus menpunyai jiwa negarawan, bukankah kata negarawan sering kali masuk dalam wilayah politik dan kekuasaan. Bagaimana jika makna negarawan dapat mengilhami seorang anak muda Ali Affadi seperti ilham seorang pengusaha muda H.O.S Cokroaminoto pada Serikat dagangnya. Gagasan besar akan lahir dari orang- orang yang berfikir besar dan semoga itu ada pada Ali Affandi Mattalitti.

Gagasan Intelektual – selalu diawali dari prilaku , teliti, teratur, tercapai. Penulis yakin Ali Affadi akan meneliti semua kemauan- kemauan yang masuk dalam Hipmi Surabaya sebelum aturan- aturan organisasi merestuinya. Kurang lebih 3 bulan yang lalu Ali Affadi terpilih menjadi Ketum Hipmi Surabaya, tapi karena aturan beliau belum dilantik maka beliau selalu meneliti perkembangan micro masyarakat sekitarnya yang sangat tepat sebagai ujung tombak visi – misi hipmi setelah dilantik, diawal penulis katakan selesai sudah komitmen…dan saatnya surabaya mempunyai partner Ali Affadi untuk memetakan kalangan dunia kreatif bermitra dengan ketangguhan inovatife yang dimiliki ukm – umkm untuk menemukan eksistensi dari sebuah gagasan intelektual. Berapa kali ukm, umkm dimaknai sebagi solusi usaha alternatif oleh beberapa lembaga , birokrasi, dan para akademisi, terus sampai kapan akan tercapai martabat para ukm-umkm akan di maknai negarawan oleh pelaku dunia ekonomi global. Mungkin Ali Affandi bisa menjadi mediasi dari gagasan besar untuk saling berdialog sehingga apa yang beliau harapkan dari keinginannya untuk memperoleh pemerataan ( minimal 2 % dari penduduk surabaya ) menembus segala bentuk sistem yang menghambat majunya dunia usaha-e. Wong cilik.

Terakhir kali penulis sampaikan Selamat Ali Affandi, Surabaya tidak akan besar jika tidak dipimpin oleh orang yang berjiwa besar .

\Surin Welangon9/03/2010.Pengurus Hipmi Jatim

seni Trotoar tanpa lampu Merah

Februari 26, 2010

seni Trotoar tanpa lampu Merah
inkonsistensi tema ( Baca : Budaya ) dalam cacatan surin welangon

FORKOT /Forum Kota gresik menempuh jalan alternatif pada saat seni ter- pinggir-kan oleh sistem regulasi kebijakan penguasa. para pekerja seni menemui jalan buntu untuk menuju ruang transformasi budaya, di gresik hampir tak pernah ada ruang yang secara ikhlas diperuntukkan oleh pemerintah untuk seniman dalam proses mendokumentasi kebudayaannya. mediasi gelaran Forum Kota dengan tema ” seni trotoar” tanpa narkoba, agaknya harus secara klise perlu dijelaskan disini. Mengapa saya pisah tema diawal antara seni trotoar dalam tanda petik dengan tema tanpa narkoba. mengapa juga perlunya dipertajam kekuatan tema dari segala niat yang muncul dan terhimpun menjadi visi kegelisahan para pegiat – penikmat seni, budaya, untuk menemukan ruang publik / gedung presentatif.
Trotoar muncul sebagai tema dalam launching biro seni forkot, berbagai elemen yang bergesekan selama ini, daya tahan eksistensinya hingga saat ini karena para pegiat musik perkusi , penikmat musik pop ( Group Band ) secara sengaja selalu membentuk opini – opini kecil di warung kopi. Ide-ide keterbatasan muncul lalu Forum Kota menangkap signal akan situasi perlu atmosfir kesenian di gresik. Dengan membawa tema Trotoar diharapkan secara ”iba” dan dalam tinjauan estetik yang unik, trotor bisa dijadikan alasan untuk siapapun tertampung untuk memberikan kontribusi apresiatif terhadap seniman yang akan menawarkan gagasannya. Sayang sekali ide kontemporer trotoar tidak dapat dilaksanakan karena kendala teknis jalan protokol dan terpaksa tema ini menjadi inkonsisten ketika berbagai elemen yang hadir di geser kedalam suatu space yaitu samping halaman gedung berpaving dan secara otomatis aura yang akan muncul dari seni trotoar sudah jauh dari semangat awal yaitu seni trotoar dan berbagai dampak aksi reaksi artistik, kemudian dapat diidentifikasi menjadi gejala pembaharuan gerakan seni pinggiran di gresik. Contoh lain media seni instalasi berupa miniatur visual traktor dari media kertas semen dan bambu yang digunakan Forum Kota ketika melakukan demontrasi menolak reklamasi pantai.ini adalah awal dari sebuah pengungkapan media seni ( seni rupa dan teater ) dalam mengiringi aksi sebuah elemen masa aksi di kota gresik. Dan dapat juga dikatagorikan seni pertunjukan menurut saya.
Lantas gagasan apa yang mau ditawarkan digelaran tema seni trotoar kali ini, seni apa yang mau diapresiasi, untung masih ada musikalisasi puisi yang disajikan oleh KOmunitas PInggiran , yang bisa mengingatkan keadaan dan siklus kebudayaan yang terjadi di kota SANTRI ( kawaSAN indusTRI ), bagai sebuah arena , gelaran Forum Kota hanya menfasilitasi ruang dan waktu, publik yang hadir lebih gampang dicerna karena publik Forkot bukan publik yang secara mampu memformalisaikan kebudayaannya dimana dia dibesarkan, publik yang hadir adalah komunitas penghobi genre musik pop komersil yang mengelompok dan terbagi menurut nama band yang di FUNs –natik-kan. Wow…sebuah dialektika yang unik bahwasanya kelompok Funs yang tergabung dalam Slankers, ST12-setia, Ranger canchuters, Massiver ..mau dan meluangkan hadir dengan membawa solidaritas yang tinggi untuk peduli dalam suatu tema ” seni pinggiran ”saya katakan ini adalah onani kebudayan dari kelompok yang dihimpun oleh kekuatan solidaritas hubungan emosional dan intelektual yang dijaga oleh para eks-aktifis PMII terhibrida dengan beberapa genre seniman lalu muncul dalam satu obsesi seni, FORKOT beserta masyarakat Funs Club-nya.
Tak ada dialog dalam session membicarakan kebudayaan, seperti kegelisahan Soekarno ketika menghadapi varian musik rock`n roll, cha..cha..cha..ngak ngik ngek . pada dekade demokrasi terpimpin 1959 . penyaji dalam hal ini Kris A.W seorang pelukis dan ketua Dewan Kesenian Gresik yang memang alfa dan harus menyadari bahwa relasi gelaran pada forum ini adalah awal dari persentuhan para pegiat, pelaku kebudayaan ( Seniman ) dengan warga kotanya. Yang hedonis, sekretarian, dan cendrung konsumeris dan terse- skat oleh aliran musik meski tampil utuh sebagai hasil korelasi solidaritas, tidak ada yang salah dalam gelaran di ruang publik kali ini, karena kota gresik sendiri para pegiatnya terlalu mendikotomi antara seni eksklusif yang lahir dari seniman akademis dan seni pinggiran yang lahir karena gesekan hegemoni sosial dan penikmat seni yang ada di kampus, di program – program kulikuler. dalam peta penyajian karya sehingga mana rupa, tari, teater,sastra , film, musik , komunitas funs musik industri jauh dari sosio kultur gresik yang notabene gresik dalam endapan sejarah abad – 14 adalah kota pelabuhan yang dengan segala jenis urbanisasi tentunya akan membawa warisan sejarah budaya etnisnya sendiri, dan dalam sejarah kekuasaan memastikan sebuah kasanah islami yang akan tertampilkan dan dijaga ketat oleh penguasa sebagai seni warisan adiluhung ( Exclusive ), dalam konstelasi budaya nasional gresik bisa di tafsirkan dalam damar kurung mbah masmundari, songkok H. Awieng, yaitu budaya tradisionalisme aliran ketimuran ( 1930-an ), dalam momongan ke-partai-an ( Berdirinya Cabang Lesbumi digresik – 1960-an ) tradisionalisme – modern ( Mural dinding karya sapto raharjo di gedung wisma A.Yani 1970-an ) , dan masih banyak lagi yang belum tercover yaitu para pegiat teater cager, pada perupa angkatan 80-an ( Lulusan ASRI – ISI Yogyakarta – IKIP / UNESA Surabaya ) yang mewarnai daya apresiasi masyarakat gresik yang cenderung memandang seni rupa adalah seni pragmatis ( pengaruh booming art dealer lukisan surealisme Yogyakarta , Surabaya ). Sastra realisme sosial H.U. Mardi Luhung yang melalang buana hingga tak terbaca oleh masyarakatnya sendiri.
Sebuah kebingungan ketika mau ngomong akar budaya, kemana dan di mana tempatnya, kenapa forkot mengagas di trotoar ? apa ini majas sarkasme yang ditujukan bagi para pengelola daerah karena lupa antara visi negara dalam membangun kebudayaan dengan terselenggaranya iklim keseniaan yang di dalamnya penguasa juga harus bertanggung jawab untuk memberi respon positif pada pelaku-pelaku estetika.
Bagi saya tema trotoar akan lebih indipenden ( TANPA ) tanpa sosialisasi UU narkoba, Support iklan , Pesan Sponsor dari BNK( Badan Narkotika Kabupaten gresik ) pada acara yang disajikan pada malam itu, dengan mensosialisasikan undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkoba, tutor menjelaskan sembari menayangkan slide / fragmen 2 gadis belia pecandu narkoba, miris,….. tapi saya tidak yakin semiris nasib kesenian di kota gresik. Sebuah langkah yang sangat awal memang bagi biro seni Forkot untuk me – redesain kembali sebuah wacana gelaran publik budaya yang nantinya akan disajikan pada tiap bulanan dengan secara nomaden dan diharapkan bisa menghadirkan pegiat – penikmat seni yang berbeda – beda. Sunguh usaha yang tidak mudah untuk mendekatkan seni pada publik, tentunya dengan berbagai audiens yang bisa memahami wacana seni – seni wacana . dan saya yakin situasi ini jika berlangsung terus menerus akan terjadi dengan sendiri apa esensi dari kebudayaan gresik lantas akan menemukan akar budaya gresik yang selama ini selalu luput dari sapaan para pelaku seni di gresik. Apa seni hanya mencapai takaran sekedar rasa nikmat dan menjadi gaya hidup berkelompok anak-anak pecinta ( Funs musik komoditas ), atau seniman gresik akan kembali terjebak pada imajinernya sendiri, dan art publik lebih dikehendaki dari pada eksistensi DKG
tanggal 20 februari 2009 di pelataran gedung pramuka-gresik , ketua DKG sebagai penyaji juga tidak punya kesempatan banyak untuk bicara tentang idealisme seni dan mensosialisasikan DKG dengan bentuk yang bisa renyah untuk didengar publik di gresik , beliau berusaha menawarkan jika seniman dan masyarakat perlu kehadiran DKG, apapun caranya, apa dengan ada kontrak politik ( Gresik menjelang Suksesi Pilkab ), atau people power ( Kebuntuan lobi ) . Ketua DKG ini malah tak sengaja mengadu pada publik tentang lambatnya Surat Keputusan ( SK ) dari Bupati gresik yang digantung sejak 2007 belum turun juga , otomatis DKG hidup dengan 0.0 digit untuk menjalankan agenda yang telah menjadi amanat musyawarah seniman gresik, , suasana sedikit profokatif ketika saya katakan ,“Rebut GNI untuk Kesenian dan Kebudayan .” dan audien yang 85 % adalah para kumpulan Fun Club Musik langsung menyambut dengan nada ke-kiri-an—rebut. …….rebut,….cita rasa seperti manifesto kebudayaan yang telah 80 tahun kita lampau, kenapa harus kontrak politik, kenapa tidak mengadopsi gagasan – gagasan forkot, atau NGGRESIK dotcom ( Kumpulan Blog`e wong gresik )untuk terus memanfaatkan ruang publik dan ruang maya, kenapa harus menunggu direbut , bukankan jalan kesenian akan lancar tanpa lampu merah
Setidaknya baru terasa bahwa DKG tidak sendirian, seniman gresik masih punya penikmat meskiput kiblat mereka berbeda. Penikmat universal dalam tataran pemahanan tentang seni hanya sampai pada tataran unik dan mahal. Ya…..awal dari insulin yang baik untuk menghangatkan agenda- agenda biro seni Fokot ke depan. Dan sejak acara dibuka yang bisa saya definisikan adalah sebuah istighosah budaya untuk menyelamatkan sejarah warisan, romantisme kejayaan kanjeng sunan yang harus dipertahankan sehingga segala bentuk seni pinggiran yang begitu dekat dengan kerakyatan akan muncul menjadi penyadaran – penyadaran di ruang – ruang kapitalisme industri, dan komunitas – komunitas seniman melenceng dari budaya timur dan tumbuh secara uiversal akan membunuh citra rasa gresik kota santri , atau para hedonis tetap menjadi manusia yang pasif karena tergerus komoditas musik kaset VCD, Gadget , dunia maya ,Facebook, Perfect Wold, Mafia war, kekuawatiran pengakuan para penikmat, pegiat seni untuk mengadukan , menanyakan relasi seni dan pemerintah kepada birokrat di kota gresik, bahwa mereka membutuhkan ruang sebagai gelanggang untuk meletupkan karya guna bertemu antara pegiat dan penikmat mereka. Jika ini tak direspon serius oleh penguasa maka akan menjadi bom waktu yang akan meledak menjadi aliran – aliran kepentigan, dan kesenian gresik akan lebih banyak menyuarakan unsur afiliasi golongan dari pada umanisme sosial. Dan satu lagi catatan yang ringkas. Kesenian gresik harus didekatkan dengan masyarakatnya sebelum masuk kembali para ruang ekslusif yang malah tak jamah , ruang publik – publik harus dimanfaatkan karena disanalah gagasan – gagasan segar akan muncul dikemudian. Siap – siap saja seandainya UNMU membuka satu lagi ruang Fakultas Seni dan Sastra , Ok….Serasa minum es jeruk disiang hari.

—————Surinwelangon22/02/2010.penulisadalalahPegiatsenidanbudaya—–

PENDEGO ( Penjaga Tambak )

Februari 19, 2010

M. Dani ( 28 Th ) Pendego Profesi Hidup
Profesi Pendego ( Penjaga Tambak Ikan ) sudah lama dipratekkan sejak 4 generasi yang lalu. umumya orang berprofesi ini hari-harinya dihabiskan di tepi laut, jauh dari daerah pemukiman, kadang dalam seminngu cuma sekali ke keramaiaan untuk membeli kebutuhan makan dan minyak tanah. contohnya M. hamdani (28 tahun ) mengaku menjalani profesi ini sejak umur 12 tahun, ia mengikuti jejak ayahnya yang juga berprofesi sama sebagai pendego. dan hanya ketrampilan menjaga tambak yang hamdani miliki, karena ia hanya tamatan Sekolah Dasar 6 tahun. Menjadi pendego tak semudah bayangan orang katanya. ya..seperti paranormal lah..ia harus tahu kapan air laut akan pasang dan surut, berapa banyak ikan yang ada dalam tambak meski tak terlihat, ha..ha..ha..ini semua karena pengalaman mas, katanya padaku dan itu di nyakini juga oleh Tosin (65 thn) pendego yang menjaga tambak ikan H.Toha juragannya selama 50 tahun . dan bagaimana dengan pendapatan mereka, rata-rata dalam satu bulan pendapatan mereka tidak tentu ( 300-450 Rp ) ini didapat dari memasang prayang ( jebakan untuk menangkap udang putih ). kalau hasil prayang banyak ya mereka senang jika tidak ada hasil ya..cari pinjaman ke para tengkulak udangnya. Pendego memang tidak di gaji bulanan sama juragannya, apalagi di beri pesangon kalau uda gak kerja, mereka benar-benar survive dalam menjalankan profesinya. pendego dapat merasakan hasil yang cukup lumayan apabila panen dalam setahun paling banyak 3 kali panen. dari hasil panen 10% diberikan oleh juragannya. ya..itulah pendego sebuah profesi yang masih ada hingga kini yang tak pernah tersentuh oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan. Profesi Pendego banyak dijumpai di wilayah kawasan pesisir pantai utara wilayah budidaya ikan kolam tambak tradisional.
Seperti Bapak Djaelan atau biasa dipanggil Wak Djaelan ( 80 Tahun ) mengabdi sebagai Pendego sejak umur 10 tahun hingga saat ini, diusia yang sudah uzur tugasnya lebih ringan dibandingkan ketika dulu masih muda, dijaman penjajahan seseorang yang dipilih menjadi Pendego oleh para pemilik tambak adalah orang yang menpunyai kemampuan lebih, seorang pendego minimal bisa mengusai seni beladiri ( Pendekar ) karena dijaman sebelum kemerdekaan ( tahun 1930 – 1945 ) Pendego adalah orang yang direkomendasi oleh seorang lurah untuk mengamankan area pertambakan dari gangguan pencuri, tugas pandego mengatur buruh-buruh tambak , memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan perlindungan apabila mendapat ancaman dari pencuri maupun perampok ikan bahkan juga ancaman dari mantra / polisi belanda yang hendak menangkap dan men – sel para warga sekitar tambak karena mencuri roti dan susu dari kapal belanda yang merapat di pesisir pantai. Para pendego bisa memegang kendali beberapa buruh dan hingga beberapa hektar tambak, begitu Wak Djaelan menuturkan. Setelah kemerdekaan ( 1945 -1965 ) peran pendego menjadi sangat strategis karena mereka menbawai banyak buruh, seperti buruh ngigiri ( Buruh Menaikkan tanah keatas pematang ), Buruh keduk ( Buruh mengambil tanah liat untuk melebarkan/ meninggikan tanah pematang ) Buruh tambak ( Buruh yang menjaga, memelihara ikan hingga mbanjang / panen ), para buruh ini mengantungkan nasibnya pada para pandego, kapan mereka bekerja dan kapan mereka berhenti, semuanya pendego yang mengatur, otomatis posisi pandego sangat dihormati dikalangan para buruh dan masyarakatnya ditambah lagi banyak juga setelah pensiun dari pandego, mereka dijadikan lurah oleh petinggi ( Pejabat yang mengangkat menjadi lurah ).
Evoria setelah bangsa ini merdeka dan pada waktu 1955, banyak kelompok organisasi, kaum cendekia, ormas ,ramai – ramai mendirikan partai, dijaman multipartai banyak para pendego yang diperalat menjadi media propaganda politik, mereka jadi pecah ada yang ikut agamis ( PNU ) Ada yang ikut Nasionalis ( PNI ) Ada yang ikut Komunis ( PKI ), suasananya campur aduk yang tadinya menjadi teman akhirnya berkelahi saling adu kekuatan masa buruhnya. Yang ikut Komunis akan dijanjikan pembagian hak atas tanah dengan adil dan begitu garang mengambil ikan yang belum waktunya di panen, atau ketika di panen mereka ikut Mburi ( mengambil semaunya sendiri ) tanpa menghiraukan sang pemilik tambak atau pendego yang mengawasinya atau mencuri udang di prayang waktu malam hari. Sedang yang ikut Nasionalis rata – rata pengikut Presiden Soekarno ini yaitu pandego berkepribadian kejawen / Abangan yang lebih memilih jalan tengah dalam mengambil resiko berprinsip hidup nerimo ing pandum dalam masalah pekerjaan, pendego yang ikut PNI malah banyak membiayai dari resiko gagasan – gagasan untuk mencapai kemenangan PNI , dan lebih focus dalam wacana perubahan melawan imperialisme ekonomi dan sosial . Para pendego yang ikut Agamis adalah para Pendego yang ikut jama`ah nadliyin ( NU ) , pada waktu itu selama hidupnya dekat dengan pesantren / kyai.dan mengelola tambak-tambak milik pondok pesantren atau milik pak haji. Wak Djaelan saat itu tidak ikut partai atau golongan manapun tapi ia kena imbas juga, karena menurutnya aktifitas pendego seperti dia, hari-hari dalam hidupnya banyak dihabiskan di tambak yang diawasinya. Dan karena jauh dari pemukinan penduduk maka aktifitas sosial serta keagamaan juga jarang dilakukan secara berjama`ah . karena jarang terlihat ikut pengajian di surau-surau lantas hal ini dimanfaatkan orang yang tidak suka padanya ( Oknum ) mereka menuduh para pandego banyak menjadi kader BTI ( Barisan Tani Indonesia ) salah satu organisasi sayap komunis, apalagi para pendego kalau sudah kumpul memang sering memainkan alat karawitan gendang, jidor untuk ditabung guna mengiringi latihan silat,la kok malah di katakan itu tayuban, maksiat, maka di cap PKI dan kena sasaran pasukan Ansor ( Organisasi sayap NU ) yang memang pada waktu itu sangat getol-getolnya memberantas komunis di Indonesia, padahal faktanya tidak demikian. Hampir saja saya dibunuh oleh meraka (Oknum), tapi untungnya saya lawan mereka, wong saya ini bisa pencak silat. Ha..ha…klakarnya. setelah itu saya melarikan diri dan baru kembali setelah suasana campur aduk itu selesai.
Wak Djaelan kini menyadari bahwa kesemuanya itu hanya Akal – akalan orang pinter saja, para tuan tanah yang ingin menguasahi lahan –lahan tanah tambak, Saya dituduh PKI karena mereka ingin menguasai lahan tambak yang tadinya laut kami gacar ( Reklamasi ) menjadi tambak, di tahun 30-an orang tua saya juga Pandego, yang tadinya diberi pekerjaan untuk mengelola lahan 2 hektar dan karena bapak mengacar lagi dengan memanfaatkan tanah terlantar di pesisir timur laut, membabat pohon bakau laut yang berdampingan dengan lahan tambak yang orang tua kami kelola, maka tambak yang tadinya cuma 2 hektar makin bertambah luas. ketika saya teruskan untuk mengelola tambak tersebut . Luasnya sudah menjadi sampai 7 hektar. Dan itu yang diinginkan oleh orang2 pinter itu, supaya gacaran tambak bapak saya dapat mereka kuasai untuk di-sertifikat-kan istilah jaman sekarang. Ya… alasan mereka pada waktu itu macem – macem, kita dikenakan pajak yang tinggi . karena saya ini tidak sekolah ya…jadi tidak mengerti, mereka menawarkan diri dengan membiayai pajak atas lahan gacaran kami, lantas kami sepakati saja, dan tambak gacaran kami tersebut mereka sewa dengan cara membayar sewa tidak berupa uang, tapi berupa beras, gula, ada juga dengan kain batik ya….macem-macem lah ,,dan pada saat itu kondisi ekonomi memang kritis, jadi kami terima saja supaya dapat bertahan hidup, profesi pendego pada waktu itu sangatlah terancam apabila tidak menurut maka di tuduh PKI,…melawan juragan,…ditakut-takuti membayar pajak … Situasi jaman pemberontakan. Bukan saya saja ,“kata Wak Djaelan , di kampung Tambak osowilangun ini banyak yang bernasib sama seperti saya dan didaerah pesisir – pesir utara laut jawa ini , sampai mengare ( Gresik ) nasib pendego juga demikian, tapi kalau di daerah gresik pendego biasanya dari keluaranya sendiri, mungkin tidak se-ironis diwilayah surabaya ini . Sejak diberlakukannya undang – undang pokok agraria tahun 60 sebenarya para pendego seperti saya mendapatkan hak sisa tanah dari tambak juragan saya dulu. Juragan saya hanya punya 2 hektar dan mestinya sisa dari 7 hehtar yang sekarang ini menjadi milik pendego-pendego yang pernah bekerja di lahan tambak tersebut. Orang – orang bilang dapat SK tanah tambak , tapi nyatanya tak sebanding dengan harapan.
Kini Wak Djaelan sudah tua , tambak gacaran hasil orang tuanya dulu sudah menjadi satu sertifikat dengan tambak mantan juragannya, mereka kuasai, merka jual pada investor. Kami tidak mampu menuntut. Kami hanya punya saksi tapi mereka punya uang dan bisa mempermainkan hukum, saya ikhlaskan saja dan saya berpesan kepada anak-anak saya supaya dilupakan saja, kini Wak Djaelan terpaksa sewa tambak wakaf milik masjid , disamping mengelola tambak sewaannya ia juga menjadi salah satu Imam Sholat di Musholla Al-Ikhlas.
————————————————————————–Surinwelangon17-02-2010-

Hello world!

Februari 12, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.